Selasa, 22 April 2014 - , , 0 komentar

Cyberspace

Peran Cyberspace sebagai ruang budaya bagi manusia

Kebudayaan Cyber adalah Kebudayaan yang terbentuk karena semakin membudayanya pelaksanaan hampir segala jenis akifitas manusia di d dunia cyber. Hal ini disebabkan karena telah terjadinya elekronisasi di hampir segala jenis aktivitas kehidupan manusia. Hal ini berarti semua manusia harus memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan alat-alat elektronis yang berteknologi tinggi sebab jika tidak maka manusia itu akan terpinggirkan dan menjadi manusia yang tidak berguna.

Penerapan ICT (Information Comunication Technology) memiliki tantangan tersendiri. Masalah muncul ketika aktivitas yang berbasis ICT berinteraksi dengan orang-orang yang masih gagap teknologi. Proses komunikasi berbasis teknologi informasi akan terlihat tersendat, macet bahkan tak berfungsi ketika berhadapan dengan orang-orang yang belum terlalu kenal dengan komputer, jaringan dan internet.

Tantangan penerapan ICT dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu sarana dan prasarana, masyarakat dan individu. Tantangan yang ada dalam sarana prasarana antara lain adalah software yang digunakan untuk fasilitas pendukung IVT sebagian besar masih belum berbahasa Indonesia.

Kemungkinan terjadinya kebocoran informasi rahasia negara semakin besar, belum terlalu memasyarakat internet maupun alat-alat pendukung teknologi informasi terutama di daerah-daerah terpencil.

Penerapan ICT di Indonesia terjadi dengan e-Indonesia Initiative. E-Indonesia adalah suatu gerakan yang berkaitan dengan pembangunan teknologi dan komunikasi di Indonesia, baik usulan kebijakan tesbed, pengadilan, pemantauan maupun kegiatan-kegiatan yang terkait lainnya, baik di pemerintah, korporasi, sekolah maupun lembaga swadaya masyarakat. Tujuan kegiatan ini adalah tercapainya pembangunan teknologi informasi dan komunikasi yang selaras dengan pembangunan negara Republik Indonesia. Pembangunan e-commerce, e-education, e-goverment dll perlu diteruskan dengan melihat pengalaman selama ini dan juga strategi pembangunan maupun penerapan yang lebih sesuai.

Konsep penerapan teknologi informasi dan komunikasi akan percuma jika tantangan yang ada dalam masyarakat dan pribadi bangsa Indonesia tidak kita tanggulangi. Hal itu pun akan parah jika peluang yang ada tidak kita manfaatkan. Penyambutan elektronisasi dalam segala bidang harus kita persiapkan dengan pembentukan budaya baru dalam didi bangsa Indonesia. Pembentukan budaya ini tidak berarti mengganti seluruh budaya yang ada, namun lebih cenderung kepada penggabungan budaya-budaya baik yang ada pada dua kebudayaan dengan tujuan terciptanya satu budaya unggul yang memanusiakan manusia dan menunjiukkan manusia yang menjadi dirinya sendiri namun tetap sesuai fitrahnya.


Masalah-Masalah yang mungkin muncul Dalam Cyberspace

Kajian budaya atau cultural studies pertama kali muncul di Birmingham, Inggris. Salah satu perintis-nya adalah Raymond Williams. Pada perkembangan selanjutnya, kajian budaya menyebar ke Eropa. Perkembangan kajian budaya ini menjadi sangat berarti ketika kajian budaya "klasik" bertemu secara intensif dengan pemikiran postmodern. Pemikiran postmodern yang dimaksud adalah postmodernis-me sebagaimana muncul dari tradisi pemikiran kontemporer Prancis seperti Lyotard, Foucault, Derrida, Roland Barthes, dan Jean Baudrillard.

Sebagai pemikir aliran postmodern yang perhatian utamanya adalah hakikat dan pengaruh komunikasi dalam masyarakat pascamodern, Baudrillard sering mengeluarkan ide-ide cukup kontroversial dan melawan kemapanan pemikiran yang ada selama ini. Misalnya dalam wacana mengenai kreativitas dalam budaya media massa atau budaya cyber ia menganggapnya sebagai sesuatu yang absurd dan contradictio in terminis. Bagi Baudrillard, televisi merupakan medan di mana orang ditarik ke dalam sebuah kebudayaan sebagai black hole. singkatnya Simulacra. Realitas yang ada adalah realitas semu, realitas buatan (hiperrealitas).

Menurut Mark Slouka , sebagaimana yang ditulis Astar Hadi (2005), Gambaran dalam budaya media dan cyber space telah kehilangan daya representasi. Ini berarti para konsumen budaya media massa dan cyberspace tidak lagi berkreasi karena kehilangan dialectical capacity of representation. Baudrillard menggambarkan realitas ini melalui empat tahap: ""(1) it (image) is the reflection of the basic reality, (2) it masks and pervert a basic reality, (3) it masks the absence of the a basic reality, dan (4) it bears no relation on any reality whatever: it is its own pure simalacrum.Dari keempat tahap itu, tahap kedua adalah yang paling penting (maka Baudrillard memberi aksen): gambaran bahkan mengelabui kita sehingga kita tidak sadar lagi akan ketidakhadirannya. Gambaran dalam media massa dan cyber seperti televisi,ineternet tidak lagi kita pahami dalam kerangka semiotis signifier dan signified Tanda-petanda). Jarak keduanya lenyap, sehingga yang tinggal hanyalah sebuah pengalaman langsung. Artinya, kita seolah-olah tidak sedang menghadapi image atau gambaran tentang "realitas"" itu sendiri. Inilah yang disebut Baudrillard dengan istilah the immediate, the unsignified atau simulacrum yang berarti tiruan, imitasi, tidak nyata, tidak sesungguhnya (hal:20).


Di era milenium ketiga ini banyak kalangan merasa sangat bahagia, seolah-olah milenium ini akan membawa banyak perubahan bagi kesejahteraan kehidupan manusia. Hidup manusia seakan-akan lebih mudah karena peradaban tinggi (high civilization) melahirkan teknologi tinggi (high tech), komunikasi global (global communication), digitalisasi, cloning, rekayasa genetika, dan teknologi informatika. Secara perlahan tetapi pasti, para manusia milenium itu terlena dengan segala kemudahan hidup, buday a konsumsi yang serba instan membuat mereka lupa bahwa hidup yang mereka hadapi mulai kabur dan tenggelam dalam realitas semu. Dalam konteks budaya politik Indonesia hiperrealitas ini tampak dengan adanya budaya korupsi dan saling konflik antar-elite politik, carut marut pendidikan, layanan publik yang buruk, kekerasan aparat, pemogokan buruh, penyimpang-an kekuasaan, kolusi dan nepotisme. Dalam keseharian masyarakat perang isu dan simulacrum dalam tayangan media dianggap sebagai kebenaran.



Dari pemetaan masyarakat cyberspace inilah kita bisa memotret kembali perpanjangan dunia internet yang telah memberi manfaat kemajuan zaman serta membunuh manusia dari dunia. Dibalik itu semua,cyberspace pada kenyataan adalah dunia yang penuh jebakan: “sekularisme”,”Atheisme”,narsisme” atau “anarkisme”. Meskipun demikian berbagai bentuk jebakan tentunya tidak menyurutkan untuk mencari jalan keluarnya. Bukan dengan jalan menolak cyberspace,akan tetapi melalui jalan tengah yang bisa dicapai,bagiamana cyberspace ini diarahkan pada masa depan yang positif fungsi dari dunia cyberspace untuk membangun peradaban umat manusia yang lebih humanitarian.


Pengertian Jester (The Jester)


The jester adalah seorang hacker misterius, dia menamakan dirinya
“Jester” dengan menggunakan akun twitter dengan username @th3j35t3r, Jester adalah hacker yang memiliki nama besar di komunitas “bawah tanah” yang melakukannya. Nama Jester sendiri terbilang terkenal di komunitas hacker sebagai individu yang antiteroris dan anarki (sebagian menyebutnya pro-pemerintah AS). Sudah sejak lama ia melawan kelompok hacker Anonymous dan belakangan Lulzsec (yang disebut-sebut sebagai sempalan Anonymous). Bahkan sebenarnya, kelompok Lulzsec sudah beberapa kali mencoba mengungkap identitas asli Jester namun tidak berhasil.
Jester menggambarkan dirinya sebagai “hacktivist” untuk kebaikan” dan memposting pesan “Tango DOWN” setelah serangannya sukses, bersamaan dengan link dari situs yang dia miliki di bawahnya.
Hacker Jester ini mengkaliam bahwa serangan yang dilakukannya adalah untuk “menghambat jalur komunikasi bagi para teroris, simpatisan, untuk pemecah masalah, fasilitator, rezim yang sering menindas dan kepadaa orang-orang jahat lainnya.” Hal itu disampaikan melalui tweet pada tweeternya.
Niat Jester ini pun telah dijelaskan secara rinci di blog-nya, dalam sebuah posting yang pada bulan September. Dalam posting tersebut, Jester menggambarkan kekurangan dari, “Wikileaks”
Selain itu Foxnews juga pernah mengabarkan bahwa Jester, yang diduga adalah Hacker kewarganegaraan AS, merupakan orang yang bertanggung jawab atas penyerangan terhadap situs-situs Islam, khususnya situs-situs berisi konten tentang jihad.
Sejak tahun lalu Jester membangun reputasinya dalam masyarakat teknologi sebagai cybervigilante yang menargetkan situs Al Qaeda dan situs jihad lainnya.
Dia menyatakan bahwa salah satu targetnya adalah situs Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad.
Motivasi Jester mengincar WikiLeaks diduga karena ia menilai bahwa situs yang didirikan Jullian Assange tersebut dapat membahayakan kehidupan pasukan AS dan aset AS lainnya.
“Saya pernah (terlibat) dengan Pasukan Khusus dan bertugas di sejumlah tempat di Afganistan dan beberapa tempat lainnya,” demikian disampaikannya
“Bagi saya pribadi WL (wikileaks-red) hanyalah target sampingan. Saya lebih tertarik dengan situs Jihad,” tulis Jester
Si hacker ini bisanya menyerang situs Islam dan mengumumkan di akun Twitter-nya “TANGO DOWN” jika ia berhasil menyerang situs tersebut. TANGO DOWN adalah jargon kata yang digunakan Pasukan Khusus AS untuk mengeliminasi jaringan teroris.
Dalam beberapa hari terakhir The Jester menyerang sejumlah situs yang meminta kaum muda Islam melakukan jihad, mendistribusikan instruksi material, dan juga mendorong sikap radikal kaum muda Muslim di AS dan Eropa.


Sumber : http://simeiliandri.wordpress.com/2014/03/31/bab-iv-cyberspace-dan-hacktivism/

   http://www.ruangbaca.com/resensi/?action=b3Blbg==&linkto=NjY=.&when=MjAwNTEwMTA=


0 komentar:

Posting Komentar